Stop Mengejek Teman!

$alt
Made menangis karena diejek oleh Tengil.

“Teettt. Teett.” bel istirahat berbunyi. Ibu guru mengakhiri penjelasan dan meninggalkan kelas. Para siswa pun terlihat berlarian keluar kelas. Made, Uni, dan Cici berjalan bersama menuju kantin. Di tengah perjalanan, terdengar suara Tengil dari jarak yang agak jauh.

Hei, coba lihat itu, Dung! Kulit Made paling gelap dibanding Uni dan Cici!” ucap Tengil dengan suara mengejek.

“Kamu benar! Mereka seperti makanan lapis yang ku makan tadi pagi. Kuning, coklat, putih! Hahaha.” jawab Badung sambil menunjuk Uni, Made, dan Cici secara berurutan. Made sangat sedih mendengar ejekan Tengil dan Badung.

Nggak usah dengerin kata mereka, Made,” kata Uni menenangkan Made.

“Iya, nanti juga mereka lelah sendiri,” imbuh Cici dengan santai.

 

Sesampainya di kantin, mereka membeli makanan ringan. Kemudian, mereka membawanya ke kelas. Namun ketika akan kembali, mereka bertemu lagi dengan Tengil dan Badung.

 “Hmmm. melihat Made seperti sudah malam ya, gelap!” kata Tengil. Badung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Tengil. Sontak siswa-siswi yang berada di kantin menoleh ke arah Made. Menyadari hal itu, Made merasa sangat malu.

“Memangnya kenapa kalau kulitku gelap!” bentak Made sambil terisak. Akan tetapi, Tengil dan Badung justru semakin menertawakan Made. Mereka juga tidak berhenti mengejek Made.

“Hentikan! Jangan mengolok-olok Made seperti itu!” kata Cici dengan nada marah.

“Aku akan melapor pada ibu guru,” ucap Uni sambil berlari menuju kantor guru.

 

Tak berapa lama, Uni datang bersama ibu guru. Terlihat Made sudah menangis sementara Tengil dan Badung belum berhenti mengejeknya.

“Tengil, Badung, apa yang kalian lakukan pada Made?” suara ibu guru membuat suasana kantin menjadi hening. Tengil dan Badung terdiam.

“Kalian tidak boleh memperlakukan teman seperti itu. Warna kulit bukan alasan bagi kita untuk mengejek orang lain,” ibu guru menjelaskan sambil menatap Tengil dan Badung yang sedari tadi menunduk.

“Mengejek warna kulit teman sama saja dengan mengejek pemberian Tuhan kan, bu?” Tanya Uni.

“Benar sekali, Uni. Semua yang kita miliki adalah anugerah Tuhan yang harus kita syukuri,” jelas ibu guru kepada seluruh siswa yang saat itu berada di kantin.

“Jadi, kamu tidak perlu merasa malu Made,” kata Cici. Made pun mengangguk dan berhenti menangis.

“Made, kamu anak yang manis, pintar menari pula. Belum tentu, mereka yang mengejekmu bisa menari sebagus dirimu,” kata ibu guru sambil menepuk Made yang tengah menyeka air mata.  Tengil dan Badung tersenyum malu.

“Setiap manusia itu unik. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi, tidak sepantasnya kita saling ejek atau merendahkan orang lain,” tambah ibu guru.

Tengil dan Badung akhirnya meminta maaf kepada Made. Sejak saat itu, semua siswa tidak pernah saling ejek dan membeda-bedakan teman.

Related Artikel


....

29 April 2017 | 09:08:33 | = 283

Pembual dan Beruang Liar
....

15 April 2017 | 09:40:52 | = 311

Tanya Siapa Temannya
....

10 May 2017 | 10:03:07 | = 316

Pemilihan Raja Rimba
....

23 May 2017 | 20:21:31 | = 384

Akibat Merusak Lingkungan