Waspadai Gejala Disfasia pada Anak

$alt
https://pixabay.com/id/manusia-anak-gadis-berbicara-763156/

Mengamati tumbuh kembang anak merupakan hal yang menyenangkan sekaligus salah satu peran penting bagi orang tua. Orang tua sebaiknya jeli dan peka dalam mengenali gangguan tumbuh kembang anak sehingga segera dapat ditangani. Salah satu jenis gangguan yang dapat terjadi pada anak adalah disfasia. Disfasia merupakan gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan anak berdasarkan tahapan usianya.

Disfasia disebabkan oleh adanya gangguan pada pusat bicara anak di otak. Gangguan ini akan berimbas pada perkembangan otak dan mengganggu kemampuan akademisnya. Kemampuan bicara dan menulis anak akan kurang sehingga menghambat komunikasi serta kegiatan belajar membaca dan menulis pada awal sekolah. Untuk mengatasinya sejak dini, mari kita kenali jenis, gejala, dan cara penanganan disfasia pada anak berikut ini.

Jenis dan Gejala Disfasia

Dalam istilah medis, dikenal dua jenis disfasia yang dapat terjadi pada anak. Pertama, adalah jenis disfasia reseptif. Disfasia reseptif terjadi apabila anak dapat mendengar, tetapi tidak memahami yang ia dengar. Ia pun tidak dapat merespon atau mengungkapkan dengan baik tentang apa yang ia maksud secara verbal. Tak jarang anak membuat istilah-istilah sendiri yang sebenarnya tidak ada artinya. Kedua, adalah jenis disfasia ekspresif. Disfasia ekspresif terjadi apabila anak dapat mendengar dan memahami yang ia dengar, tetapi tidak dapat merespon atau mengungkapkan secara verbal. Anak cenderung mengalami kesulitan dalam menentukan kata yang akan diucapkan sekalipun ia mengerti.

Orang tua harus lebih waspada dengan mengamati setiap proses tumbuh kembang anak. Secara mandiri, orang tua dapat mengenali disfasia pada anak melalui beberapa gejala. Berikut ini gejala disfasia pada anak.

  1. Anak belum bisa mengucapkan kata sederhana yang bermakna pada usia 1 tahun.
  2. Anak sudah bisa memahami pembicaraan orang lain, tetapi ia tidak bisa menyampaikan suatu maksud secara verbal.
  3. Anak mengalami kelainan organ untuk bicara yang biasanya dapat diamati melalui kelainan organ ketika makan atau minum.

Cara Penanganan Disfasia pada Anak

Jika ternyata anak mengalami disfasia, orang tua perlu melakukan penangannan secepatnya. Orang tua dapat melakukan penanganan dengan cara berikut.

  1. Konsultasikan dengan dokter agar mendapatkan obat untuk membantu perbaikan gangguan pada pusat bicara di otak.
  2. Cek semua organ bicara anak dan organ lain yang terkait untuk mengetahui apakah ada gangguan atau tidak.
  3. Lakukan terapi bicara dengan melatih otot pada organ yang digunakan untuk bicara.

Selain cara di atas, orang tua dapat melakukan terapi sendiri di rumah. Bagaimana terapi yang dapat dilakukan orang tua di rumah? Terapi di rumah untuk anak disfasia dapat dilakukan dengan beberapa kegiatan yang menarik untuk anak dan mudah dilakukan. Terapi biasanya dilakukan mulai dari melatih otot organ bicara lalu menuntun anak untuk bicara.

Beberapa contoh terapi yang bisa dilakukan, misalnya mengajak anak untuk meniup balon atau lilin guna melatih kelenturan otot organ bicaranya. Selain itu, orang tua dapat mengajak anak minum menggunakan sedotan berkelok dengan bentuk menarik. Kemudian, anak diajak untuk mengucapkan huruf vokal, meniru bunyi, mengucapkan kata, dan dilanjutkan kalimat.

Orang tua tak ingin terjadi disfasia pada anak bukan? Ayo kenali gejala disfasia pada anak sejak dini dan segera lakukan penanganan. Jangan biarkan disfasia menghambat tumbuh kembang anak kita. Ingat, tumbuh kembang anak tercinta merupakan hal yang berharga bagi masa depannya kelak.

 

Related Artikel


....

22 May 2017 | 13:36:45 | = 271

Menumbuhkan Budaya Membaca Mulai dari Rumah
....

25 October 2017 | 09:10:26 | = 72

Ajari Anak Mengatur Uang Saku Sejak Dini