Karena Ulahku, Rugilah Aku

$alt
Ale dan Eko asyik bermain air hujan.

Hari minggu sore, Ale terlihat bersiap untuk bermain bersama teman-teman. Mereka telah bersepakat untuk bermain bersama di lapangan. Sesuai rencana, mereka akan berkumpul di lapangan pukul 3 sore. Walau cuaca sedikit mendung, namun Ale tetap bersemangat karena akan bertemu dengan teman-temannya. Sebelum berangkat, Ale tidak lupa untuk berpamitan kepada ibunya.

“Ibu, aku akan bermain bersama teman-teman di lapangan,” kata Ale meminta izin pada ibunya.

“Iya Ale. Tapi ingat, kamu harus pulang sebelum hujan turun,” kata ibu Ale mengingatkan.

“Iya, Bu,” kata Ale sambil mencium tangan ibunya.

Dengan mengendarai sepedanya, Ale segera bergegas menuju lapangan. Ternyata Eko, Dondo, Uni, Cici, dan Made sudah berkumpul di sana. Tak harus menunggu lama, mereka segera memulai permainan.

 

Ketika Ale dan teman-temannya tengah asyik bermain, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara petir. Awan mendung bergulung dan suasana menjadi gelap. Gerimis pun menyusul turun dari langit.

“Teman-teman, sepertinya hujan akan segera turun. Sebaiknya, kita segera pulang. Jika tidak, kita bisa kehujanan,” kata Uni mengingatkan teman-temannya.

“Betul kata Uni. Sepertinya hujannya akan lebat. Bisa-bisa kita sakit kalau hujan-hujanan. Bukankah besok kita ada ulangan Matematika? Kalau sampai kita sakit, kita tidak bisa mengikuti ulangan,” kata Made.

 “Benar, ayo kita segera pulang,” kata Dondo sambil mengumpulkan peralatan yang digunakan untuk bermain dan bersiap untuk pulang.

“Kita pulang nanti saja. Lagi pula bukankah sangat menyenangkan bermain ketika hujan,” kata Ale.

“Iya, benar kata Ale. Kami pulang nanti saja. Rumahku dan rumah Ale sangat dekat dari sini. Nanti sebelum hujan lebat kami akan segera pulang. Benar kan Ale?” kata Eko meminta persetujuan.

“Benar Eko. Teman-teman, jika kalian kalau mau pulang dahulu tidak apa-apa,” kata Ale sambil mengajak Eko kembali bermain.

 

Akhirnya hanya Dondo, Uni, Cici, dan Made yang memutuskan untuk pulang dulu. Sementara itu, Ale dan Eko kembali asyik bermain. Mereka tak lagi memperhatikan langit yang semakin mendung dan gerimis yang turun semakin deras. Tak berselang lama, hujan lebat turun. Namun bukannya pulang, Ale dan Eko justru makin asyik bermain air hujan. Tubuh mereka menjadi basah dan kotor. Tiba-tiba Ale teringat pesan ibunya. Ia harus pulang sebelum hujan.

“Eko, sebaiknya kita pulang sekarang. Ibuku tadi berpesan agar aku pulang sebelum hujan,” kata Ale.

“Baiklah Ale. Aku juga sudah kedinginan sekarang,” kata Eko sambil menggigil.

Ale dan Eko kemudian bergegas pulang. Sesampainya di rumah, ibu Ale sangat terkejut melihat Ale yang menggigil dengan tubuh basah kuyup dan kotor.

“Astaga, mengapa tubuhmu kotor dan basah kuyup Ale? Kamu tadi tidak berteduh? “tanya ibu Ale sambil mengambil handuk.

“Tidak, Bu. Aku dan Eko terlalu asyik bermain, “ jawab Ale dengan bibir bergetar kedinginan.

“Bukankah ibu sudah berpesan agar kamu pulang sebelum hujan?” tegur ibu.

“Maaf, Bu. Tadi aku dan Eko bermain lebih lama,” kata Ale sambil terus menggigil kedinginan.

“Ya sudah. Sekarang cepat mandi dan ganti baju. Setelah itu minumlah jahe manis hangat yang ibu buatkan,” kata ibu Ale.

Ale menuruti perintah ibu. Ia bergegas mandi dan berganti baju. Tak lupa, ia minum jahe manis hangat yang telah ibu buatkan. Namun, malam harinya Ale merasa kepalanya sangat pusing.

 

Keesokan paginya, Ale terlambat bangun. Badannya terasa sangat lemas, bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja Ale sangat kesulitan.

“Ale, ini sudah pukul 6. Mengapa kamu tidak segera bangun dan bersiap ke sekolah? Bukankah hari ini kamu ada ulangan matematika?” tanya ibu ketika melihat Ale masih di bawah selimutnya.

“Ibu, kepalaku pusing sekali. Badanku juga sangat lemas,” keluh Ale.

Ibu Ale kemudian mendekat dan menyentuh dahi Ale.

“Ale, sepertinya kamu demam. Ini pasti karena kemarin kamu hujan-hujanan. Ibu ambilkan obat dulu,” kata ibu Ale.

Ale kemudian segera meminum obat yang sudah disiapkan oleh ibunya. Ibu juga menyuruh Ale untuk beristirahat dan tidak berangkat ke sekolah. Akibatnya, Ale tidak bisa mengikuti ulangan matematika hari ini. Ale merasa sangat menyesal karena kemarin tidak menghiraukan nasihat ibunya dan juga pesan teman-temannya. Ia berjanji dalam hati untuk lebih tertib mematuhi aturan bermain di lain hari.

Related Artikel


....

23 June 2017 | 14:34:27 | = 495

Tikus Buta dan Rombongannya
....

12 May 2017 | 14:15:15 | = 466

Rubah dan Domba
....

11 August 2017 | 11:09:25 | = 583

Stop Mengejek Teman!
....

25 April 2017 | 08:41:30 | = 402

Bocah-Bocah dan Katak