Oh, Ruginya Jika Ceroboh

$alt
Dondo ingin segera pulang sehingga mempercepat langkahnya.

Langit terlihat sedikit mendung saat Dondo dan teman-temannya pulang sekolah. Sambil bersepeda, mereka berencana untuk belajar bersama di rumah Eko setelah makan siang. Dondo sangat suka belajar bersama teman-temannya karena mereka saling membantu jika ada yang merasa kesulitan.

Sesampainya di rumah, Dondo melepas sepatunya di luar rumah dan bergegas masuk. Tanpa membawa masuk sepatunya, Dondo segera berganti pakaian, mencuci tangan, kemudian mengambil makan siang. Ayah yang baru saja tiba heran melihat sepatu Dondo yang masih berserakan di luar rumah. Setelah Dondo menyelesaikan makan siangnya, Ayah pun  menasihati Dondo.

“Dondo, letakkan sepatumu di rak sepatu terlebih dahulu agar rapi,” kata ayah Dondo.

“Iya, Ayah, nanti akan kurapikan. O, iya. Siang ini, teman-teman akan belajar bersama di rumah Eko. Aku boleh ikut ya, Yah?” kata Dondo.

“Iya, tentu saja boleh. Sekarang, Ayah akan pergi menjemput ibu dan kakakmu di rumah nenek. Jangan lupa kunci pintu sebelum pergi!” pesan ayah Dondo.

“Baik, Ayah, “ kata Dondo sambil mengantar ayahnya ke depan rumah.

 

Setelah ayahnya berangkat, Dondo mempersiapkan buku yang hendak dibawa untuk belajar bersama. Beberapa saat kemudian, Ale dan Made datang mengajak Dondo pergi ke rumah Eko. Dondo pun segera mengunci pintu dan bersiap berangkat.

“Dondo, sepatumu tidak kamu letakkan di dalam rumah terlebih dahulu?” tanya Made sambil melihat ke arah sepatu yang tergeletak di luar rumah.

“Nanti ibuku akan meletakkannya di rak seperti biasa. Ayo, kita berangkat sekarang,” jawab Dondo. Dondo, Ale, dan Made pun bergegas berangkat ke rumah Eko. Sesampainya di rumah Eko, hujan turun deras sekali.

 

Sore hari saat hujan  mulai reda, Dondo dan teman-temannya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Di perjalanan, Dondo teringat sepatunya yang belum dia rapikan. Ia khawatir sepatunya basah karena kehujanan. Dondo merasa khawatir karena besok ada pelajaran olahraga, sementara sepatunya justru basah kehujanan. Kekhawatirannya hilang karena Dondo berpikir ibunya akan merapikan sepatu itu seperti biasanya. Meskipun begitu, Dondo tetap ingin segera pulang karena hujan kembali turun. Dondo pun mempercepat langkahnya.

Betapa terkejutnya Dondo ketika sampai di rumah, sepatunya masih berada di luar dan basah kehujanan. Ternyata, orang tua dan kakaknya belum pulang. Beberapa saat kemudian, ibu Dondo menelepon dan mengatakan bahwa mereka akan pulang sedikit terlambat karena hujan menyebabkan jalanan menjadi macet. Sambil menunggu mereka pulang, Dondo berusaha mengeringkan sepatunya menggunakan kipas angin. Ia kembali teringat akan pelajaran olah raga yang akan dilaksanakan besok di sekolah.

 

Ketika orang tua dan kakak Dondo tiba di rumah, dengan sedikit takut Dondo pun menceritakan perihal sepatunya kepada ibunya.

“Maaf, Bu. Aku terlalu bersemangat belajar bersama hingga lupa untuk merapikan sepatu. Aku pikir Ibu akan pulang cepat sehingga bisa merapikan sepatuku seperti biasa,” jawab Dondo lirih.

“Dondo, lain kali sebaiknya kamu segera merapikan sepatu atau barang-barang lain ke tempatnya setelah digunakan, ya? Tanpa menunggu ibu, Dondo tentu bisa melakukannya sendiri,” nasihat ibu Dondo.

“Benar, Dondo. Kamu anak yang pintar, tentu bisa mengerjakan itu sendiri tanpa bergantung pada orang lain,” kata Kak Ola menyemangati Dondo.

“Baiklah. Karena Dondo harus tetap memakai sepatu ke sekolah, lebih baik sekarang Ayah mengantar Dondo untuk membeli sepatu baru. Kebetulan, hujan sudah reda dan toko sepatu juga belum tutup,” kata Ayah.

“Terima kasih, Ayah,” jawab Dondo lega.

Dalam hati, Dondo berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dia harus bisa menjadi anak yang mandiri. Dia juga akan berusaha untuk lebih disiplin.

Related Artikel


....

15 April 2017 | 09:53:35 | = 230

Kumbang dan Lebah
....

15 May 2017 | 09:54:06 | = 387

Singa dan Rubah
....

07 August 2017 | 15:24:12 | = 223

Berkunjung ke Kebun Binatang
....

16 May 2017 | 10:30:04 | = 320

Laba-Laba dan Lalat