5 Ide Kegiatan agar Class Meeting Lebih Bermakna

$alt
Kegiatan pengisi class meeting bisa bervariasi, namun tetap mengutamakan unsur edukasi dan rekreasi.

Class meeting merupakan kegiatan di sekolah yang biasanya diselenggarakan sesudah minggu penilaian. Kegiatan ini biasanya diselenggarakan selama 3-6 hari. Selain menyegarkan pikiran setelah kegiatan penilaian selesai, class meeting juga ditujukan untuk membangun kebersamaan dan melatih kemampuan bersosial siswa di dalam lingkungan sekolah. Class meeting dapat menjadi alternatif metode pembelajaran nilai sikap, meliputi aspek spiritual serta aspek sosial dengan cara yang menarik dan bermakna bagi siswa.

Agar kegiatan ini berjalan lancar, sekolah tentu membutuhkan perencanaan yang matang. Sebagai langkah awal, guru dapat mengidekan berbagai jenis kegiatan class meeting. Kegiatan pengisi bisa bervariasi, namun tetap mengutamakan unsur edukasi dan rekreasi. Berikut ini lima ide kegiatan yang dapat menjadi pilihan agar class meeting lebih bermakna.

1.    Perlombaan

Perlombaan atau kompetisi menjadi pilihan kegiatan yang paling sering dilakukan saat class meeting. Kegiatan tersebut dapat mewakili banyak keterampilan dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh adalah lomba sepak bola, lari, dan kasti dari mata pelajaran PJOK. Lalu, lomba deklamasi puisi, story telling, dan berpidato dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ada juga lomba menyanyi, menari, serta melukis dan mewarnai dari mata pelajaran SBdP. Selain pilihan kegiatan yang beragam, sekolah juga harus mempertimbangkan bentuk penghargaan bagi setiap pemenang. Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan dapat memahami pentingnya sikap sportif dan kejujuran.

2.    Pentas Seni

Seperti halnya perlombaan, acara pentas seni dapat mewakili banyak keterampilan dari berbagai bidang. Hal yang membedakan antara kegiatan perlombaan dengan pentas seni, yaitu waktu, tempat, dan penghargaan. Pentas seni dapat dilaksanakan dalam waktu yang lebih singkat, sehingga sisa waktu yang dialokasikan untuk class meeting dapat dialihkan untuk persiapan sebelum acara digelar. Salah satu persiapan tersebut berupa persiapan tempat yang biasanya berupa sebuah panggung sederhana. Sementara itu, penghargaan dalam pentas seni bukan diberikan kepada pemenang, melainkan kepada peserta yang berhasil menampilkan pertunjukan menarik. Melalui pentas seni, para siswa diharapkan untuk menjadi lebih akrab, saling menghargai, serta memiliki rasa kebersamaan yang kuat.

3.    Permainan

Kegiatan bermain tentu menjadi hal yang paling menyenangkan bagi siswa. Akan tetapi, sekolah harus mampu memberikan ruang edukasi dalam kegiatan tersebut. Oleh karena itu, sekolah dapat memilih berbagai permainan edukatif yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menghibur siswa. Permainan tersebut dapat berupa permainan asah otak maupun aktivitas outbond. Permainan asah otak yang dapat menjadi alternatif saat class meeting misalnya permainan puzzle dan hitung cepat menggunakan sempoa, sedangkan beragam aktivitas outbond dapat dilakukan, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Unsur edukasi yang diutamakan dalam permainan adalah kekompakan, ketepatan, dan kecepatan.

4.    Bakti Sosial

Bakti sosial (baksos) merupakan alternatif kegiatan class meeting yang menjadikan pendidikan moral sebagai target pembelajaran yang ingin dicapai. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak untuk mewujudkan rasa kepedulian dan kemanusiaan terhadap sesama. Sekolah dapat menentukan tempat atau daerah sasaran baksos, kemudian mempertimbangkan wujud bakti sosial yang akan diberikan. Hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan bakti sosial adalah tidak memberatkan siswa, memperoleh izin dari orang tua/wali siswa, serta tepat sasaran. Dengan demikian, perencanaan dan koordinasi dengan orang tua/wali siswa perlu dilakukan sebelum kegiatan tersebut dilaksanakan.

5.    Bakti Lingkungan

Mendidik siswa untuk mencintai lingkungan tentu memiliki banyak manfaat. Hal tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan bakti lingkungan. Kegiatan ini menjadi pilihan terbaik mengisi class meeting saat guru tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan bimbingan. Karenanya, kegiatan ini dapat dilakukan secara mandiri oleh siswa di lingkungan sekolah. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan bakti lingkungan juga dapat dilakukan di luar lingkungan sekolah dengan pendampingan guru. Bakti lingkungan tidak hanya sekadar kegiatan membersihkan lingkungan. Lebih dari itu, bakti lingkungan juga meliputi kegiatan perawatan, penanaman kembali, penataan, dan daur ulang. Oleh karena itu, bakti lingkungan dapat melatih siswa untuk peduli lingkungan, mandiri, disiplin, dan kreatif.