Menanamkan Empati kepada Siswa

$alt
Rendahnya afeksi yang ada dalam diri siswa harus dibangkitkan kembali dengan menanamkan karakter, salah satunya adalah sikap empati.

Pendidikan merupakan tonggak utama perubahan bangsa, masyarakat yang berpendidikan akan membuat bangsanya semakin maju. Pendidikan juga menjadi hak semua orang, tidak mengenal usia ataupun strata sosial. Pendidikan tidak hanya diperoleh di bangku sekolah, namun sepanjang hayat kehidupan seseorang. Dalam hal tersebut, guru sebagai fasilitator pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan eksak, tetapi juga ilmu-ilmu kehidupan yang akan menumbuhkan karakter dalam diri siswa.

Empati sebagai Salah Satu Karakter yang Harus Ditanamkan pada Siswa

Belakangan, banyak kita temukan kasus perilaku menyimpang yang ada di sekolah, seperti perilaku bullying, pelecehan, atau kekerasan yang mencoreng dunia pendidikan. Padahal, sejatinya sekolah adalah tempat untuk menumbuhkan moralitas dan pengetahuan yang tinggi. Kepribadian siswa merupakan salah satu faktor yang mendorong munculnya perilaku menyimpang siswa di sekolah. Kepribadian merupakan karakter psikis atau ada yang menyebutnya dengan habits atau kebiasaan. Terkikisnya toleransi siswa dan rendahnya afeksi yang ada dalam diri siswa harus dibangkitkan kembali dengan menanamkan pendidikan karakter, salah satunya adalah sikap empati.

Para peneliti dari University of California di Berkley’s mendefinisikan empati sebagai kemampuan untuk merasakan emosi orang lain serta kemampuan untuk membayangkan apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain. Selain empati, kita juga mengenal dengan istilah simpati. Keduanya memiliki kesamaan, yakni sama-sama merasakan perasaan yang dirasakan orang lain. Perbedaannya, jika simpati memberikan rasa belas kasih kepada orang lain, maka empati adalah mencoba menempatkan diri kita di posisi orang lain.

Menanamkan Empati di Dalam Kelas

Membangun karakter sejak dini, termasuk menanamkan sikap empati, sebenarnya dimulai dari pendidikan orangtua di rumah, namun tidak ada salahnya guru menanamkan karakter empati tersebut di sekolah. Bahkan, guru memegang peranan penting untuk menanamkan karakter pada siswa karena guru merupakan orangtua siswa ketika di sekolah. Berbeda dengan mengajarkan ilmu sains, mengajarkan sekaligus menanamkan sikap empati kepada siswa akan lebih efektif melalui pengamatan dan pengalaman langsung dengan orang-orang di sekitar mereka. Dengan kata lain, guru tidak mengajarkan sikap empati, namun lebih tepatnya siswa belajar empati melalui pengalaman mereka sendiri dengan dibantu oleh guru.

Ada berbagai cara mempelajari empati secara alamiah di dalam kelas, guru hanya perlu mengemasnya menjadi sesuatu hal yang menarik bagi siswa. Jadikan empati sebagai sikap yang benar-benar perlu mereka ketahui dan benar-benar dapat diterapkan dalam keseharian mereka. Empati merupakan sebuah keterampilan. Dalam sebuah penelitian, McLennan menyatakan bahwa mengekspresikan kepedulian kepada orang lain bukanlah kemampuan bawaan yang hadir secara alami pada seseorang, melainkan keterampilan yang dapat diajarkan dan dipelihara melalui lingkungan pendidikan yang mendukung (McLennan, 2008).

Guru bisa mulai mengajarkan empati dengan mengenalkan Siapa saya?, Bagaimana kita berhubungan?, Apa yang bisa kita berikan untuk orang lain?, Apa yang dibutuhkan orang-orang di sekitar dari saya, dan apa yang saya butuhkan dari orang di sekitar saya? Dari sana siswa akan memahami sebuah perasaan Apa yang harus saya lakukan dengan apa yang telah saya ketahui? Jika guru ingin mengajarkan empati kepada siswa, maka bantulah siswa untuk tidak bertanya “Apa yang membuat saya berbeda?” melainkan “Apa yang membuat kita sama?”

Related Artikel