Menanamkan Budaya Kejujuran melalui USBN

$alt
Pelaksanaan USBN SD tahun ini diharapkan bebas dari kecurangan pihak sekolah ataupun siswa itu sendiri.

Pendidikan sejatinya merupakan tempat bagi seorang siswa untuk mengembangkan karakter yang ada dalam diri mereka. Salah satu karakter yang harus ditanamkan tersebut ialah kejujuran. Kejujuran dapat ditanamkan guru melalui pengajaran serta sikap dalam keseharian siswa di sekolah. Sejalan dengan upaya penanaman karakter kejujuran tersebut, pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) bisa menjadi salah satu metode bagi guru untuk menanamkan kejujuran pada siswa.

Praktik Kecurangan dalam Ujian

Pelaksanaan USBN bagi Sekolah Dasar (SD) tahun ini diharapkan bebas dari kecurangan pihak sekolah ataupun siswa itu sendiri. Selama ini, praktik kecurangan pada ujian seperti membantu siswa mengerjakan soal atau memberikan bocoran soal ujian sangat marak terjadi di berbagai tingkatan pendidikan. Padahal praktik kecurangan semacam itu justru mendidik siswa menjadi pribadi yang curang. Oleh karena itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berpesan untuk membudayakan kejujuran dengan menghindarkan praktik kecurangan di lingkungan sekolah. Dalam hal tersebut guru memegang peranan penting untuk menanamkan budaya kejujuran.

Perilaku curang dalam ujian secara tidak sadar telah menggores mental siswa sehingga siswa memiliki keyakinan bahwa perilaku curang dalam ujian itu sah karena gurunya memperbolehkan. Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Direktur Jenderal Dikdasmen Hamid Muhammad bahwa praktik kecurangan dengan membocorkan soal atau memberi kunci jawaban akan membuat sekolah tidak dapat memotret kemampuan hasil belajar siswa dengan baik dan benar. Selain itu, praktik kecurangan yang dilakukan dalam penyelenggaraan ujian sekolah akan menghilangkan kesempatan siswa untuk dapat melakukan refleksi diri terkait kemampuan yang dimiliki siswa.

Upaya Menanamkan Karakter Kejujuran melalui USBN

Untuk menghindari praktik kecurangan tersebut, Mendikbud mengembalikan evaluasi belajar siswa kepada guru untuk mewujudkan USBN yang kredibel dan bebas kecurangan. Dengan mengembalikan evaluasi belajar kepada guru, pemerintah membantu mengembalikan dan mendorong praktik integritas di lingkungan pendidikan. “Karena institusi pendidikan adalah garda utama pembentukan karakter bangsa. Kita yang berkecimpung di bidang pendidikan harus dapat memberikan teladan kejujuran dan integritas,” tegas Hamid Muhammad.

Biasanya, praktik kecurangan saat ujian terjadi karena munculnya ketakutan pihak sekolah dan siswa itu sendiri jika tidak lulus ujian sehingga siswa tersebut harus mengulang ujian di tahun depan. Hal tersebut membuat semua pihak melakukan beberapa tindakan untuk meluluskan siswanya. Peraturan kelulusan yang ditentukan dari ujian nasional sangat memberatkan siswa, sehingga munculah praktik-praktik kecurangan tersebut. Maka dari itu, kini evaluasi ujian diserahkan kepada pihak sekolah agar pihak sekolah sendiri yang menentukan siswa tersebut layak atau tidak lulus dari ujian.

Untuk mencegah terjadinya kecurangan dalam USBN tahun ini, Mendikbud telah melakukan beberapa upaya. Sebagai langkah awal, Mendikbud akan memberikan sanksi berupa rekomendasi pemecatan bagi para pelaku yang melakukan kecurangan dalam USBN tahun ini. Hingga saat ini sudah ada lima orang guru yang diduga melakukan praktik kecurangan dalam pelaksanaan USBN. Adapun pengertian pecat disini bukan langsung dipecat, namun ada prosesnya terlebih dahulu. Karena guru adalah profesi yang memiliki lembaga etik dan dewan etik. Semuanya akan dimusyawarahkan dulu dengan meminta berbagai masukan dari semua pihak.

Related Artikel