Berbeda dalam Keyakinan namun Bersaudara dalam Kemanusiaan

$alt
Meskipun kita berbeda dalam keyakinan, Kita tetap bersaudara dalam kemanusiaan.

“Uni! Uni!,” panggil Cici  sambil berlari menghampiri Uni yang berjalan melewati gerbang sekolah. Uni menengok dan melihat Cici berlari-lari mengejarnya, seperti hendak menceritakan sesuatu. Uni kemudian berhenti supaya Cici bisa menyusul. Tak berapa lama, mereka sudah kembali berjalan bersama menuju ke kelas.

“Uni, apa kamu melihat berita pengeboman tadi malam? Setelah melihat berita itu, aku jadi takut,” cerita Cici dengan raut ketakutan.

“Iya, Cici. Aku juga melihat beritanya. Aku sangat prihatin saat mendengar banyak korban yang berjatuhan. Aku pun merasa takut melihatnya sama sepertimu. Kata ayahku, itu adalah aksi terorisme. Terorisme memang berusaha untuk menebar rasa takut, amarah, kebencian, dan permusuhan antarkelompok masyarakat,” jelas Uni.

“Hai, Uni. Hai, Cici. Kalian membicarakan apa? Kelihatannya serius sekali,” tanya Made yang bergabung dengan Cici dan Uni berjalan ke kelas.

“Ini Made, kami membicarakan berita pengeboman tadi malam,” jawab Cici.

“Oh, tadi malam aku juga melihat berita itu. Ibuku menjelaskan untuk tidak takut pada aksi-aksi terorisme. Meskipun demikian, kita juga harus tetap waspada. Kita bisa melawan dengan cara menebar kebaikan, terutama kebaikan yang berkaitan dengan usaha menjaga toleransi antarumat beragama yang semakin terancam karena aksi terorisme ini,” jelas Made.

“Iya, ayahku juga mengatakan kalau semua agama itu mengajarkan kebaikan. Aku percaya selain agamaku, agama kalian juga mengajarkan tentang kebaikan dan rasa kasih sayang,” cerita Uni.

“Benar, agamaku juga mengajarkan untuk saling mengasihi dan menyayangi. Kami menjunjung tinggi keharmonisan,” kata Cici menambahkan.

“Agmaku juga. Aku yakin agama lain juga mengajarkan kebaikan yang sama,” kata Made.

Uni, Cici, dan Made sampai di dalam kelas. Masih cukup lama sampai pelajaran pertama dimulai. Mereka pun melanjutkan percakapan mereka.

“Tapi apakah kalian pernah berpikir, kenapa banyak terjadi kerusuhan atas nama agama ya?” tanya Made.

“Menurutku itu terjadi karena masyarakat dihasut oleh orang-orang jahat. Orang jahat ini tidak suka apabila kita bersatu, kemudian berusaha menciptakan berita yang salah sehingga terjadi kericuhan, bahkan dengan sengaja menyakiti orang lain, " jawab Cici.

"Iya, kata ayahku berita tidak benar itu namanya hoax. Karenanya kita juga harus pintar untuk mencari pemberitaan yang benar dan dapat dipercaya. Ayahku juga berkata bahwa kita bisa melawannya dengan memperkuat rasa persatuan dan kesatuan. Buktinya, kita memiliki agama yang berbeda tetapi kita tetap berteman. Kita tahu bahwa agama kita masing-masing mengajarkan untuk berbuat baik, kan?’ Jawab Uni.

“Yang terpenting, kita harus mempelajari agama kita dengan baik. Kita hormati pemeluk agama lain. Meskipun kita berbeda dalam keyakinan. Kita tetap bersaudara dalam kemanusiaan,” kata Cici.

“Benar Cici, aku setuju denganmu,” jawab Uni dan Made bersamaan.

Ketiganya kini merasa yakin bahwa tidak satupun agama dan kepercayaan mengajarkan untuk berbuat jahat terhadap agama lain. Agama dan kepercayaan di seluruh penjuru bumi pasti mengajarkan kebaikan, kebajikan, dan hidup harmonis baik dengan sesama manusia, bahkan dengan alam sekitar. Adanya aksi terorisme yang mereka saksikan, merupakan kealahan dalam pemahaman beragama. Cara-cara yang menggunakan kekerasan atau melakukan perbuatan tercela merupakan akibat dari ketidakpahaman atas nilai kebaikan dari ajaran agama yang dianutnya. Oleh karenanya, setiap orang yang beragama haruslah mempelajari agamanya dengan baik. Dengan begitu, kita pun dapat memberi manfaat dan kebaikan bagi lngkungan sekitar serta menghindari pemahaman yang salah dalam melakukan ajaran agama yang dianut.

Related Artikel


....

19 December 2017 | 10:20:33 | = 378

Aku Bisa Tanpa Menyontek
....

15 April 2017 | 09:45:50 | = 534

Dua Kucing dan Seekor Tikus
....

07 August 2017 | 11:51:57 | = 583

Warna-Warni Pelangi
....

23 December 2017 | 10:11:32 | = 462

Terima Kasih Ibu