Buku, Budaya Membaca, dan Kemajuan Bangsa

$alt
Buku, Budaya Membaca, dan Kemajuan Bangsa

Penetapan Hari Buku Nasional tanggal 17 Mei dilakukan untuk memperingati berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1980. Dengan adanya peringatan tersebut diharapkan masyarakat dapat mengingat kembali pentingnya membaca buku untuk masa depan bangsa. Sebab masa depan bangsa ini berada di tangan generasi-generasi yang cerdas dan berwawasan luas, yang mana dapat dimulai dengan kebiasaan gemar membaca sejak dini.

Budaya membaca di Indonesia sudah tertinggal jauh dibandingkan negara lain. Survei UNESCO membuktikan bahwa persentase minat baca Indonesia baru 0,001 persen. Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2012 juga memperihatinkan, di mana Indonesia berada pada posisi 60 dengan skor 396 dari total 65 peserta negara untuk kategori membaca, sedangkan skor rata-rata internasional yang telah ditetapkan adala 500. Hasil survei tersebut memperlihatkan rendahnya budaya membaca di masyarakat Indonesia, maka dari itu perlu adanya gerakan nasional untuk menumbuhkan budaya membaca di seluruh lapisan masyarakat.

Membaca buku memiliki banyak manfaat, baik bagi diri orang per orang maupun bagi masyarakat suatu negara. Menurut penelitian yang dilakukan Ohio University, membaca buku dapat membuat seseorang termotivasi dalam menghadapi berbagai macam hambatan dalam hidupnya. Secara psikologis, orang yang membaca buku akan merasakan masuk ke dalam dunia imajinasi yang ada di buku tersebut sehingga ia dapat mengidentifikasi karakter, pengalaman, peristiwa dan berbagai kejadian yang akan bermanfaat untuk hidupnya. Buku menyimpan banyak informasi dan wawasan yang dapat dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan menulis. Selain itu, pentingnya membaca buku adalah untuk meningkatkan kreativitas pada diri seseorang. Banyak sekali manfaat membaca buku untuk meningkatkan kualitas manusia.

Saat ini, kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat perlahan menggeser keberadaan buku cetak. Semua orang membawa ponsel pintar yang dapat melakukan berbagai hal yang menunjang kehidupannya. Fenomena ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi upaya membangun budaya membaca.

Untuk mengimbangi kemajuan teknologi tersebut, dewasa ini telah hadir buku elektronik yang mencoba mempertemukan kebutuhan membaca dengan keasyikan menikmati gadget. Pembaca yang ingin menambah wawasan dapat membaca melalui ponsel pintarnya. Kini kita tidak perlu membawa buku fisik, cukup dengan membawa ponsel pintar kita sudah dapat membaca ratusan buku elektronik (e-book).

Ada beberapa keuntungan memilih buku elektronik untuk bahan bacaan, di antaranya sebagai berikut.

a. Ramah lingkungan; buku cetak menggunakan kertas, sedangkan bahan kertas diperoleh dari menebang pohon-pohon yang menjadi sumber oksigen.

b. Mudah dibawa; jika buku dalam bentuk cetak memerlukan tempat khusus untuk menyimpannya, buku elektornik dapat disimpan dan dibawa kemana saja dalam ponsel, komputer, atau tablet.

c. Lebih murah; buku digital tidak memerlukan biaya produksi atau percetakan.

Kehadiran buku elektronik menjadi terobosan baru untuk menumbuhkan budaya gemar membaca di kalangan masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas bangsa di masa mendatang.

Related Artikel