11 Oktober 2018 09:51:30

Bunda, Kenali Gejala Stunting pada Anak Sejak Dini

Stunting adalah gagalnya pertumbuhan seorang anak karena kekurangan gizi kronis

Jumlah balita yang mengalami stunting di Indonesia tergolong tinggi. Global Nutrition Report melaporkan bahwa 36,4 persen balita di Indonesia mengalami risiko terjangkit stunting. Stunting adalah gagalnya pertumbuhan seorang anak karena kekurangan gizi kronis. Biasanya, kondisi ini dialami pada masa-masa awal perkembangannya.

Anak yang mengalami stunting memiliki risiko terserang penyakit yang lebih besar, bahkan dapat menimbulkan kematian dini. Otak anak yang mengalami stunting pun kurang berkembang. Bagi wanita yang melahirkan, ada risiko komplikasi bagi yang harus ditanggung jika mengalami stunting. Untuk mengatasi hal tersebut, orang tua perlu mengenal stunting pada anak, termasuk apa saja penyebabnya, gejalanya, dan bagaimana cara mengatasinya. Simak ulasannya berikut ini.

Penyebab Stunting

Ada beberapa penyebab stunting pada anak. Salah satunya, kurangnya gizi ibu pada saat hamil. Stunting bahkan dapat terjadi apabila calon ibu mengalami kekurangan nutrisi pada saat remajanya. Apabila pola makan tersebut terus berlanjut hingga masa kehamilan, risiko stunting pun akan semakin besar. 

Penyebab lain adalah buruknya pola pemberian makan pada anak. Pada usia sebelum enam bulan, bayi seharusnya mendapatkan ASI (Air Susu Ibu) eksklusif. Selanjutnya, pemberian makan atau MPASI (Makanan Pendamping Asi) hingga dua tahun. Sanitasi yang buruk juga dapat menyebabkan terjadinya stunting. Kondisi lingkungan yang  tidak bersih tersebut dapat menyebabkan diare dan infeksi cacing usus pada anak. Masalah kesehatan ini terbukti dapat memicu gagalnya pertumbuhan.

Gejala Stunting

Gejala stunting pada anak dapat dideteksi dari perkembangan fisiknya. Biasanya, tinggi badan anak berada pada dua standar deviasi di bawah kurve standar yang ditetapkan WHO. Perawakan yang pendek ini memang dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu genetik dan lingkungan. Namun, yang paling berperan adalah lingkungan, termasuk di dalamnya malnutri.

Selain itu, anak yang terjangkit stunting, pada usia 8-10 tahun akan menjadi anak yang lebih pendiam dan memiliki kekurangan dalam memahami materi pelajaran. Hal ini disebabkan karena pola kerja otak yang lemah pada penderita stunting. Pada segi fisik, selain yang memiliki perawakan pendek, penderita stunting juga memiliki wajah yang cenderung terlihat lebih muda dari usianya.

Upaya Pencegahan Stunting

Stunting dapat dicegah dengan mudah, yaitu menerapkan pola makan yang benar, baik oleh ibu maupun anak. Pililah jenis makanan yang mengandung nutrisi dan gizi yang lengkap. Pada saat hamil atau menyusui, seorang ibu juga wajib mengonsumsi asupan nutrisi yang baik supaya dapat memenuhi kebutuhan janin atau bayi.

Selain itu, harus menerapkan gaya hidup yang sehat di dalam keluarga. Gaya hidup yang sehat tersebut dapat diaplikasikan secara pribadi maupun untuk keluarga. Cara yang dapat dilakukan antara lain mencuci tangan saat makan, mencuci peralatan makan dan dapur dengan bersih, dan selalu membersihkan diri setelah melakukan buang air besar atau kecil. Jadi, asupan nutrisi yang tepat serta sanitasi yang baik adalah kunci untuk menghindarkan anak dari risiko stunting. Dengan memedulikan hal ini, masa depan anak akan lebih sehat dan terjamin.