04 Januari 2019 13:53:54

Tidak Rewel ketika Menyambut Ayah Pulang Kerja

Ayah sudah bekerja keras untuk kita hari ini. Jadi, kita seharusnya berterima kasih.

Suatu sore, Uni sedang menunggu ayahnya pulang bekerja. Tadi pagi, sebelum berangkat bekerja, ayahnya berjanji untuk membelikannya buku cerita bergambar. Ia sangat bersemangat, sehingga menceritakan hal itu kepada teman-temannya di sekolah.

“Aku juga punya banyak buku cerita bergambar, Uni. Nanti kita bertukar buku, ya?” kata Cici.

“Iya, Cici. Nanti setelah selesai membacanya, kamu boleh meminjam punyaku dan aku meminjam punyamu,” jawab Uni.

Perbincangan itu membuat Uni merasa semakin gembira. Itulah sebabnya, ia tak sabar menunggu ayahnya pulang. Ketika Ayah baru saja masuk ke dalam rumah, Uni langsung mendatanginya.

“Bagaimana, Yah? Apakah buku ceritanya sudah dibeli?”

Ibu yang melihat tingkah Uni segera menegur.

“Uni, Ayah baru saja sampai dan pasti sangat lelah. Biarkan Ayah beristirahat dahulu, ya.”

Uni sedikit cemberut, tetapi menuruti perkataan Ibu. Meskipun ingin segera mengetahui kabar tentang buku cerita tersebut, ia berusaha untuk menahan diri.

Setelah beristirahat sejenak, Ayah memanggil Uni.

“Uni, Ayah minta maaf karena hari ini tidak jadi membelikanmu buku cerita.”

Mendengar hal itu, Uni merasa sedih. Mukanya seperti hendak menangis.

“Tapi, Ayah sudah berjanji,” ujarnya memelas.

“Begini, Uni. Tadi Ayah kehujanan di jalan. Ayah juga ingin segera tiba di rumah karena atap dapur kita bocor. Jadi, Ayah harus segera memperbaikinya. Ayah pasti akan membelikan buku itu jika waktunya tepat.”

Meskipun Ayah sudah menjelaskan, Uni tetap merasa sedih. Ia masuk ke dalam kamarnya dengan wajah murung. Ia merasa malu karena telah menceritakan hal itu kepada teman-temannya.

Tidak lama kemudian, Ibu mendatangi Uni dan menasihatinya.

“Uni, Ayah tidak berniat membuat kamu sedih. Ibu yakin, Ayah pasti akan menepati janjinya, hanya saja waktunya belum tepat. Lagipula, Ayah sudah bekerja keras untuk kita hari ini. Jadi, kita seharusnya berterima kasih.”

Mendengar kata-kata Ibu, Uni perlahan-lahan sadar. Ia pun segera meminta maaf kepada Ayah dan berjanji untuk tidak rewel ketika menyambut Ayah pulang kerja.