07 Januari 2019 08:50:50

Pentingnya Guru SD Memahami Konsep Penyusunan Soal HOTS

Soal-soal HOTS mengukur kemampuan pada bagian menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mengkreasi (creating).

Dalam Permendikbud No. 59 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 disebutkan bahwa salah satu dasar penyempurnaan kurikulum adalah adanya tantangan internal dan eksternal. Tantangan eksternal antara lain perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Terkait dengan hal tersebut, Kurikulum 2013 mengalami berbagai penyempurnaan, baik terhadap standar isi maupun standar penilaian.

Model Penilaian Standar Internasional

Untuk penyempurnaan tersebut, Kurikulum 2013 mengadaptasi model-model penilaian standar internasional. Dengan penilaian hasil belajar tersebut, peserta didik akan terbantu dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Hal ini akan mendorong peserta didik untuk berpikir secara luas dan mendalam.

Perubahan dalam sistem pembelajaran dan penilaian perlu dilakukan karena rendahnya prestasi yang dicapai oleh peserta didik Indonesia. Menurut hasil studi internasional Programme for International Student Assessment (PISA), prestasi rendah tersebut tampak dalam literasi membaca (reading literacy), literasi matematika (mathematical literacy), dan literasi sains (scientific literacy).

Selain itu, kemampuan peserta didik Indonesia sangat rendah dalam memahami informasi yang kompleks, memahami teori, analisis, dan pemecahan masalah, memahami pemakaian alat, prosedur pemecahan masalah, dan melakukan investigasi.

Dengan perubahan sistem penilaian ini, peserta didik diharapkan dapat memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang semakin meningkat, kreativitas yang bertambah, serta kemandirian dalam menyelesaikan masalah.

Memahami Konsep Soal HOTS

Pentingnya pemahaman guru SD tentang konsep penyusunan soal HOTS sangat diperlukan dalam proses penilaian prestasi peserta didik di sekolah. Perlu diketahui bahwa soal-soal HOTS bukan sekadar untuk melatih kemampuan mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), dan merujuk tanpa pengolahan (recite).

Namun, soal HOTS lebih mengacu pada kemampuan untuk transfer satu konsep ke konsep lainnya, memproses dan menerapkan informasi, mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, serta menelaah ide dan informasi secara kritis. Hal-hal inilah yang perlu diasah dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Soal HOTS dapat digunakan untuk mengukur dimensi metakognitif, tetapi bukan hanya dimensi konseptual, faktual, dan prosedural. Dimensi metakognitif juga berbicara tentang kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, melakukan interpretasi, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan metode baru, menyampaikan argumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.

Soal-soal HOTS mengukur kemampuan pada bagian menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mengkreasi (creating). Ini merupakan bagian dari dimensi proses berpikir dari Taksonomi Bloom yang disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001). Bagian lainnya adalah mengetahui (knowing), memahami (understanding), dan menerapkan (applying).

Guru juga perlu memahami bahwa penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus. Ini merupakan dasar dalam membuat pertanyaan. Stimulus tersebut sebaiknya bersifat kontekstual dan menarik. Guru dapat mengambilnya dari isu-isu global yang berkaitan dengan teknologi informasi, sains, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Dalam hal ini, kreativitas pendidik sangat dituntut karena akan memengaruhi kualitas dan variasi stimulus yang diberikan.

Klik di sini untuk mengunduh Modul Penyusunan Soal HOTS Tahun 2017.