04 April 2019 08:33:52

Bijak Bermedia Sosial: Bahaya Meneruskan Hoaks

Salah satu ciri utama hoaks adalah diberitakan oleh media abal-abal atau tidak jelas.

Dalam salah satu riset yang dilakukan oleh Daily Social mengenai karakteristik penyebaran hoaks, terungkap fakta bahwa informasi hoaks paling banyak ditemukan di media sosial, seperti Facebook, WhatsApp, dan Instagram. Informasi hoaks dibuat dan dibagikan secara mudah dan dalam waktu cepat berkat kecanggihan teknologi.

Fakta lainnya menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa tidak yakin dengan kemampuannya mendeteksi hoaks. Inilah yang memicu penyebaran hoaks semakin merambak.

Bahaya Meneruskan Hoaks

Tren penyebaran hoaks di Indonesia memang cukup fenomenal. Ada begitu banyak kabar bohong yang masih bertebaran di internet karena dibagikan secara terus-menerus oleh warganet. Akibatnya, rantai hoaks ini sulit untuk diputus. Penyebaran hoaks ini semakin marak terutama pada momen-momen khusus, misalnya menjelang Pilpres (Pemilihan Presiden).

Meneruskan hoaks kepada orang lain sangat berbahaya. Apalagi jika informasi yang tercantum dalam kabar tersebut bersifat sensitif, khususnya mengenai SARA (suku, agama, ras dan golongan). Pasalnya, hoaks dapat memicu timbulnya konflik, merusak tatanan dan kerukunan dalam masyarakat, serta menimbulkan kebencian dan kemarahan.

Masalahnya, banyak orang yang belum benar-benar menyadari bahaya meneruskan hoaks. Selain itu, banyak juga yang masih belum bisa membedakan antara hoaks atau bukan hoaks.

Bagi masyarakat awam, terutama yang baru saja menggunakan internet untuk berinteraksi dengan orang lain, keahlian mengenali hoaks sangat penting. Salah satu ciri utama hoaks adalah diberitakan oleh media abal-abal atau tidak jelas. Biasanya, media ini hanya dibuat untuk kepentingan pihak tertentu sehingga kabar yang disampaikan pun bersifat provokasi atau kontroversial.

Ciri lainnya adalah tidak didukung oleh fakta-fakta yang sebenarnya. Bahkan, sering kali hoaks mengandung sebuah informasi yang berada di luar nalar, menghebohkan atau mencuri perhatian, serta bersifat negatif.

Bijak Mengunggah Informasi

Karena dapat merusak kerukunan dalam masyarakat, penyebaran hoaks sudah seharusnya dihentikan. Dimulai dari mana? Tentu saja, dari diri sendiri terlebih dahulu. Sangat penting bagi kita untuk menyaring sebuah kabar sebelum mengunggahnya di media sosial. Begitu pula jika ingin membagikan tautan dari media online, jangan lupa untuk melakukan riset sederhana.

Intinya, apabila Anda melihat berita yang tidak benar muncul di beranda media sosial, jangan tergoda untuk membagikannya. Sebaliknya, Anda bisa mengambil langkah untuk melaporkannya kepada pihak terkait supaya kabar ini tidak semakin menyebar.

Tips bijak dalam mengunggah dan menyebarkan informasi lainnya adalah terkait  manfaatnya. Kadang kala, ada orang yang tidak segan-segan memberitakan apa saja dengan tujuan iseng atau supaya viral. Padahal, kabar tersebut belum tentu benar atau hanya bersifat umpan klik (clickbait). Meskipun bermula dari iseng, tindakan ini bisa menimbulkan masalah, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Perlu dipahami juga bahwa saat ini Indonesia telah menerapkan UU ITE yang mengatur segala hal terkait informasi dan transaksi elektronik. Itulah sebabnya, setiap warganet harus berhati-hati ketika menyebarkan sebuah kabar melalui internet kepada orang lain.

Baca juga: Etika Mengunggah Foto Anak di Media Sosial, Orang Tua Wajib Tahu!