14 Mei 2019 08:58:31

Kurikulum Kebencanaan, Cara Jepang Mengatasi Bencana Gempa

Pembelajaran sejak anak-anak ini sangat diperlukan di daerah yang rawan bencana.

Bencana bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Bencana juga biasanya terjadi tanpa aba-aba. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak juga dapat menjadi korban bencana. Meskipun demikian, berbekal kecanggihan teknologi, korban bencana kini dapat diminimalisir. Caranya adalah dengan melakukan mitigasi bencana yang tepat.

Salah satu bencana yang cukup sering terjadi di Indonesia adalah bencana gempa. Setiap kali terjadi dalam skala besar, bencana gempa menyebabkan banyak korban, baik korban jiwa maupun materi. Hingga saat ini, pihak-pihak terkait pun terus berkoordinasi untuk melakukan pencegahan terhadap jatuhnya korban jiwa yang lebih banyak.

Mitigasi Bencana di Jepang

Selain Indonesia, negara yang rawan terhadap bencana gempa adalah Jepang. Bencana gempa besar pernah melanda Jepang pada 2011 lalu dengan kekuatan 9,0 SR. Tsunami pun ikut menghancurkan kawasan ini hingga porak-poranda. Sekitar 19.000 orang tewas pada peristiwa tersebut.

Gempa selanjutnya yang terjadi di Hokkaido, Jepang, pada 6 September 2018 dengan kekuatan 6,6 SR memakan korban sekitar 18 jiwa. Perbedaan jumlah yang sangat besar ini menandakan bahwa mitigasi bencana gempa di Jepang telah berhasil dengan baik.

Ada beberapa langkah yang dilakukan oleh pemerintah yang bekerja sama dengan masyarakat, antara lain membangun rumah yang tahan gempa, menggunakan sistem peringatan gempa dan tsunami di ponsel pintar, menggunakan transportasi shinkansen yang dapat berhenti saat gempa terjadi, serta memaksimalkan peran media dalam memberitakan informasi ketika gempa terjadi.

Di rumah tangga, Jepang memaksimalkan peran para ibu untuk meminimalisir korban dan kerugian materi. Ada pelatihan khusus bagi para ibu rumah tangga, khususnya ketika gempa terjadi.

Kurikulum Kebencanaan

Selain metode tersebut, Jepang juga menjalankan kurikulum kebencanaan di sekolah. Tujuannya adalah supaya murid-murid sekolah tanggap dalam menghadapi gempa. Dalam kurikulum ini, murid-murid belajar untuk mengambil sikap yang tepat saat gempa, misalnya mencari tempat perlindungan. Mereka juga diajarkan bagaimana cara untuk mencapai tempat yang aman setelah gempa terjadi.

Pembelajaran sejak anak-anak ini sangat diperlukan di daerah yang rawan bencana. Dengan demikian, anak lebih terbiasa dan tanggap saat menyelamatkan diri. Salah satu cara yang rutin dilakukan adalah dengan melakukan simulasi evakuasi. Hal ini sangat bermanfaat. Salah satu contohnya adalah ketika gempa bumi mengguncang Jepang pada 2011. Sebanyak 3.000 siswa SD dan SMP di Unosumai, Kamaishi, Prefektur Iwate berhasil selamat.

Hal ini sangat mengejutkan mengingat Unosumai adalah daerah yang mengalami dampak gempa paling besar saat itu. Karena pendidikan mitigasi gempa yang telah dipelajari sebelumnya, para siswa ini berhasil berlari ke tempat tinggi dan membantu siswa lainnya. Bahkan, dari 1.000 korban jiwa yang jatuh di wilayah ini, hanya 5 pelajar.

Indonesia pun dapat mengadopsi cara Jepang dalam menghadapi gempa. Berbagai metode mitigasi gempa tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah korban, terutama anak-anak.

Baca juga: Upaya Siaga Bencana Gempa Bumi di Sekolah.