08 Agustus 2017, 14:57:33 WIB
Berkaca pada Pendidikan di Finlandia

Beberapa bulan belakangan, bermunculan pro-kontra tentang sistem pendidikan di Indonesia. Hal itu terkait dengan kebijakan pemerintah untuk menerapkan sistem full day school. Muncul berbagai macam respon penolakan-penolakan atas kebijakan pemerintah. Ada yang beranggapan bahwa sistem tersebut tidak efektif. Waktu belajar yang lebih lama dari biasanya dapat memberikan tekanan pada siswa. Selain itu, penerapan full day school dirasa juga dapat membebani orang tua siswa dan guru.

Berdasarkan pro-kontra di lapangan, beberapa penolakan juga dilatarbelakangi pandangan sebagian orang yang membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dengan sistem pendidikan di negara lain, seperti Finlandia. Finlandia merupakan negara dengan sistem pendidikan maju, namun dalam prosesnya tidak seagresif negara lain seperti Amerika, Jepang, dan Hongkong. Tanpa menuntut siswa dengan beban belajar yang berat, sebagian besar siswa Finlandia tetap mendapat peringkat atas pada tes Programme for International Student Assessment (PISA). Bertolak dari hal tersebut, banyak yang berpendapat bahwa sistem pendidikan Finlandia dapat menjadi satu pandangan dalam menjalankan sistem pendidikan di Indonesia. Lantas, bagaimana sebenarnya sistem pendidikan di Finlandia tersebut? Berikut ulasannya.

Sistem Pendidikan di Finlandia

Kurikulum di Finlandia hanya dijadikan sebagai pedoman, selebihnya guru dapat mengembangkannya sendiri. Selain itu, beredar kabar bahwa tidak ada pekerjaan rumah yang diberikan guru kepada siswanya. Hal itu tidak dapat dibenarkan sebab siswa di Finlandia tetap mendapat pekerjaan rumah. Namun, pekerjaan rumah tersebut memiliki tingkat kesulitan yang sangat mudah.

Sistem penilaian tidak diukur dengan memberikan ujian setiap akhir semester seperti di Indonesia. Ujian wajib hanya diberikan satu kali, yaitu ketika siswa-siswi sudah berusia 16 tahun. Selain sistem pendidikan yang berbeda, di Finlandia juga tidak ada sekat yang memisahkan antara siswa pandai dengan siswa yang kurang pandai. Sementara, beberapa sekolah di Indonesia justru menerapkan pembagian kelas dengan tingkat kepandaian siswa. Misalnya, membuka kelas akselesasi, kelas reguler, dan kelas internasional.

Membangun Kemandirian Siswa Sejak Dini

Di Finlandia, siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) terbiasa pergi pulang ke sekolah dengan kereta atau bis bis. Hal itu karena siswa-siswi sudah dibiasakan untuk berpikir cermat atas hidup mereka. Dalam bukunya, Tim (2017) menyebutkan bahwa hal itu juga dapat memberikan rasa dimiliki atau sense of belonging, ikhtiar untuk mengajarkan hal-hal yang mendasar, kemampuan untuk bersatu dengan alam yang damai, dan masih banyak lagi.

Tingkat Kesejahteraan Guru dan Siswa

Pendidikan di Finlandia sangat memperhatikan kesejahteraan guru dan siswa. Tidak hanya secara materi, tetapi juga kesejahteraan batin setiap individu. Proses belajar mengajar di sekolah hanya dilakukan selama 18 jam per minggu. Di luar itu, siswa bebas melakukan aktivitas lainnya. Di sekolah, para siswa SD memiliki waktu istirahat 75 menit per hari. Siswa dibebaskan bermain dan berkejaran di jam istirahat. Selain siswa, kesejateraan juga diberikan kepada guru. Setiap guru mendapat pendidikan pengembangan profesi selama 2 jam setiap minggu.

Fasilitas yang diberikan pemerintah kepada siswa dan guru memengaruhi sistem pendidikan di Finlandia. Biaya pendidikan seluruhnya ditanggung oleh pemerintah Finlandia. Dengan demikian, biaya bukanlah suatu masalah bagi orang tua dalam menyekolahkan anaknya. Belajar bukan lagi soal keterpaksaan, melainkan menjadi hal yang menyenangkan.