02 November 2017, 08:36:45 WIB
Optimalisasi Perpustakaan Sebagai Sarana Gerakan Literasi Sekolah

Perpustakaan merupakan sarana penting sekolah yang bukan hanya digunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan bahan-bahan pustaka, tetapi dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan siswa dan guru dapat terbantu dalam menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Namun demikian, kondisi perpustakaan sekolah di Indonesia kurang memadai karena tidak dikelola dengan baik akibat terkendala tenaga dan biaya. Lebih dari itu, banyak sekolah di Indonesia yang belum memiliki perpustakaan. Karenanya, perpustakaan sekolah belum menjadi tempat yang diminati untuk dikunjungi oleh siswa sehingga perannya belum terlihat sebagai sarana Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Meskipun begitu, di Indonesia juga sudah terdapat perpustakaan sekolah dengan kondisi yang cukup baik, bahkan ada yang sudah menggunakan sistem digital. Namun, keberadaannya masih terbilang sedikit.

Berdasarkan hal tersebut, optimalisasi peran perpustakaan sekolah perlu diwujudkan. Optimalisasi peran perpustakaan bukan semata untuk menjadikan perpustakaan sebagai sarana yang harus dimiliki oleh suatu sekolah. Namun, optimalisasi tersebut juga sebagai bentuk revitalisasi dan penguatan peran perpustakaan dalam rangka mendukung pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Berikut ini cara mengoptimalkan peran perpustakaan agar dapat mendukung pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

1. Koleksi Bahan Pustaka

Koleksi bahan pustaka harus disesuaikan dengan kebutuhan minimun sekolah yang mengacu pada kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Selain itu, koleksi juga ditunjang dengan menyediakan buku-buku terbaru. Melalui dana BOS, sekolah memiliki hak untuk membeli koleksi bahan pustaka terbaru, baik berupa karya cetak, karya noncetak, bahan grafika, bahan kartografi, bentuk mikro, maupun koleksi berupa sumber daya elektronik.

2. Tenaga Pengelola Perpustakaan

Selama ini, banyak sekolah memiliki keterbatasan tenaga sehingga menempatkan tenaga perpustakaan yang tidak sesuai dengan bidangnya. Padahal, sekolah seharusnya menyediakan tenaga pengelola perpustakaan yang sesuai dengan bidang keilmuannya. Oleh karena itu, perlu ada pelatihan atau pengangkatan tenaga perpustakaan yang sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Dengan kata lain, tenaga pengelola perpustakaan harus mempunyai kualifikasi yang memadai untuk pengelolaan perpustakaan sekolah.

3. Pengelolaan Perpustakaan

Revitalisasi dan upaya pembenahan pengelolaan perpustakaan harus dilakukan agar perpustakaan menjadi lebih nyaman untuk dikunjungi. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan sistem layanan yang tepat, melengkapi fasilitas perpustakaan, memperhatikan tata ruang, memelihara koleksi bahan pustaka, serta memperjelas dan mempertegas tata tertib.

4. Pelayanan Perpustakaan

Pelayanan merupakan unsur penting dalam optimalisasi peran perpustakaan. Agar pelayanan perpustakaan dapat dilakukan dengan maksimal, siswa harus dimotivasi untuk berkunjung ke perpustakaan, misalnya dengan adanya penetapan hari kunjung. Dalam GLS, penetapan hari kunjung perpustakaan tentu menjadi salah satu alternatif yang mudah dilakukan. Dalam seminggu, siswa dapat diwajibkan minimal satu kali berkunjung ke perpustakaan dan melaporkan buku apa yang telah dibaca atau dipinjamnya.

5. Penghargaan

Sekolah dapat memberikan penghargaan bagi siswa yang rajin berkunjung ke perpustakaan. Tentunya, penghargaan ini bukan hanya karena siswa telah rajin berkunjung saja, tetapi juga dilihat dari hasil laporan dari buku yang dibaca atau koleksi lain yang pernah dipinjam. Tujuan dari penghargaan ini disamping untuk mengapresiasi siswa, juga untuk memotivasi siswa-siswa lain dalam mengoptimalkan fungsi perpustakaan.