27 September 2017, 09:45:23 WIB
Dampak Pola Asuh Hyper-Parenting terhadap Tumbuh Kembang Anak

Setiap orang tua selalu menginginkan anak mereka tumbuh menjadi seseorang yang cerdas, sukses, dan bisa menjadi sosok yang membanggakan terutama bagi keluarganya. Sayangnya, tidak semua orang tua memahami karakter yang dimiliki oleh anak. Orang tua seringkali memaksakan kehendak terhadap anak tanpa mempertimbangkan kemampuan, kesiapan, dan juga perasaan anak-anak. Hal itulah yang dilakukan oleh orang tua yang menerapkan pola asuh hyper-parentingHyper-parenting merupakan pola asuh yang dilakukan dengan kontrol berlebihan dari orang tua. Dalam pola asuh ini, orang tua selalu mencermati apapun yang dilakukan oleh anak dan juga segala hal yang diberikan kepada anak-anak mereka.

Umumnya, pola asuh hyper-parenting diterapkan karena orang tua merasa tidak puas dengan pola asuh yang mereka dapatkan sewaktu masih kecil. Hal itulah yang melahirkan obsesi pada diri orang tua yang akhirnya dibebankan pada anak. Selain itu, keberhasilan ataupun kesuksesan yang diperoleh anak lebih tua juga bisa membuat orang tua menerapkan pola asuh hyper-parenting pada anak-anak yang lebih muda. Orang tua seringkali menganggap pola asuh yang diterapkan sebelumnya berhasil sehingga menerapkan pola asuh yang sama pada anak-anak selanjutnya. Dalam konteks tersebut, orang tua biasanya tidak memahami bahwa anak memiliki karakter dan juga cita-cita yang berbeda satu sama lain.

Dampak Pola Asuh Hyper-Parenting

Sebenarnya sangat wajar jika orang tua menginginkan anak-anak bisa mewujudkan keinginan mereka. Namun orang tua perlu memahami bahwa memaksakan kehendak kepada anak bukanlah hal yang baik bagi tumbuh kembang mereka. Berikut ini beberapa dampak buruk pola asuh hyper-parenting terhadap tumbuh kembang anak.

1. Anak Mudah Cemas

Pola asuh hyper-parenting umumnya akan membuat anak menjadi mudah cemas. Aturan dan pengawasan berlebihan dari orang tua membuat anak tidak tenang. Selain itu, pola asuh seperti ini akan menyebabkan anak cenderung kurang percaya diri dan tidak bisa bebas mengekspresikan dirinya karena merasa diawasi oleh orang tuanya. Mendampingi anak pada setiap aktivitasnya bisa diartikan sebagai motivasi bagi anak, namun alangkah baiknya jika orang tua tidak memaksakan kehendak mereka kepada anak sehingga anak akan menjalani berbagai hal dengan senang hati.

2. Emosi Anak Mudah Meledak

Pola asuh hyper-parenting cenderung membuat orang tua mendikte dan memberikan perintah kepada anak agar anak mengikuti kemauan orang tua. Hal tersebut pada akhirnya akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang “kaku”. Pola asuh ini juga akan membuat anak tertekan, terutama ketika perintah atau permintaan orang tua tidak sesuai dengan kehendak anak. Hal itulah yang akan membuat emosi anak meledak sewaktu-waktu.

3. Anak Menjadi Kurang Kreatif

Anak yang selalu diatur atau didikte akan merasa dibatasi. Hal tersebut kelak akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang kreatif. Lain halnya dengan orang tua yang menerapkan pola asuh lebih demokratis, anak cenderung lebih ceria dan diberikan ruang untuk lebih berekspresi sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, tentunya tanpa mengabaikan pengawasan dari orang tua.

4. Memunculkan Depresi pada Anak

Sikap orang tua yang terlalu mendikte anak lambat laun akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang murung, kurang ekspresif, bahkan sulit mendapatkan teman. Berbagai kegiatan yang sudah diatur orang tua untuk dibebankan kepada anak perlahan akan membuat anak mengabaikan dunia sosial mereka hingga membuat anak depresi.