11 April 2017, 15:22:06 WIB
Penyebab Menurunnya Minat Belajar Pada Anak

Penurunan minat belajar merupakan masalah yang sangat sering dikeluhkan oleh orang tua. Sebetulnya penurunan minat belajar bisa dikenali dengan perilaku anak yang menunjukkan sikap tidak semangat belajar, menunda mengerjakan tugas sekolah, mengulur waktu berangkat sekolah, atau menggunakan alasan agar tidak berangkat sekolah. Gejala ini kerap muncul dengan jelas, namun tidak ditangkap dengan baik oleh orang tua. Buruknya, kebanyakan anak tidak tetangani dengan baik sehingga sekolah yang pada mulanya diharapkan bisa menjadi tempat untuk mengembangkan potensi justru dihindari oleh anak-anak. Menurut Armstrong (2002) ada beberapa penyebab anak tidak berkembang di sekolah, diantaranya: 

1. Metode Belajar yang Membosankan
Menurut penelitian Goodlad, sekitar satu perlima dari hari sekolah anak digunakan hanya untuk mendengarkan penjelasan dan ceramah guru dalam ruang kelas. Ini adalah akumulasi waktu yang cukup besar untuk anak dengan tumbuh kembang baik diminta secara pasif menerima materi pembelajaran. Metode belajar dengan ceramah yang dilakukan guru di depan kelas dinilai sangat kurang memfasilitasi anak untuk ikut aktif terlibat. Bisa disimpulkan, kurangnya inisiatif guru untuk mengajak anak berpartisipasi di dalam kelas merupakan salah satu faktor yang membuat anak bosan selama belajar di sekolah. 

2. Penggunaan Buku yang Berlebihan
Buku pelajaran memang merupakan media belajar yang seringkali diandalkan oleh guru untuk memberikan informasi kepada muridnya. Namun bukan berarti buku pelajaran merupakan sumber belajar utama.  Informasi yang disampaikan buku sangat terbatas pada materi huruf dan angka yang ada di dalamnya. Pengajaran yang terlalu terforkus pada penggunaan buku akan membuat belajar membosankan dan sangat sempit, padahal banyak media pembelajaran lain yang bisa digunakan. Dampaknya, anak tidak lagi tertarik untuk belajar karena kurang bisa bereksplorasi.

3. Pengelompokan Anak Berdasarkan Prestasi
Awalnya pengelompokan belajar ini bertujuan untuk pengajaran yang lebih efisien dan menghindari timbulnya perasaan frustasi anak-anak karena perbedaan kemampuan dan prestasi. Namun demikian, data lain menunjukan bahwa ternyata murid dalam kelompok pintar tidak menunjukan kemampuan secepat mereka dalam kelompok campuran. Selain itu, anak-anak yang ditempatkan dalam kelompok lambat belajar biasanya paling dirugikan secara akademis. Anak-anak dalam kelompok lambat belajar melihat guru lebih suka menghukum dan tidak terlalu memperhatikan murid. Perbedaan kelompok tersebut justru membuat anak stress dalam belajar, karena lingkungan yang tidak mendukung. 

Orang tua harus memahami beberapa teori mendasar mengenai kebutuhan anak dalam rangka memacu minat belajar pada anak. Profesor Howard Gardner dari  Harvard, dalam bukunya The Unschool Mind mengecam gagalnya pendidikan tradisional membangkitkan perubahan mendasar dalam cara berpikir murid. Dalam penelitian Goodlad, anak-anak memilih kegiatan belajar yang mereka sukai, diantaranya: membangun atau menggambar benda-benda, membuat koleksi, melakukan karya wisata, mewawancarai orang, memeragakan sesuatu, dan melakukan proyek independen. Kegiatan yang diinginkan anak dalam belajar sangat bertentangan dengan sistem pendidikan tradisional yang masih diterapkan di sekolah, dimana anak hanya diam di meja dan mendengarkan ceramah dari guru. Oleh karenanya, orang tua diharapkan lebih jeli memilih sekolah dengan metode belajar yang tepat, supaya prestasi anak semakin meningkat.