19 Maret 2018, 10:22:42 WIB
Menanamkan Karakter Kerja Keras pada Anak

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya sukses dalam kehidupan di masa depan. Maka dari itu, berbagai hal dilakukan orangtua untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Setiap anak terlahir dengan bakat dan kemampuannya masing-masing, namun jika bakat tersebut tidak dikembangkan dan diasah dengan sungguh-sungguh maka bakat tersebut tidak akan berkembang. Seorang guru di New York yang menjadi pembicara di TED, Angela Lee Duckwort, melakukan penelitian kemudian menyimpulkan bahwa IQ dan bakat bukan indikator pasti yang menentukan kesuksesan pada masa depan.

Grit sebagai Kunci Kesuksesan di Masa Depan

Menurut Angela, IQ dan IPK yang sempurna bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan seseorang di masa yang akan datang. Kesuksesan seseorang lebih ditentukan oleh sesuatu yang disebut dengan “grit”. Grit adalah suatu tekad dan ketahanan untuk mengejar tujuan jangka panjang. Grit akan membuat seseorang memiliki stamina untuk bekerja keras dalam melakukan sesuatu yang berjangka panjang, bukan hitungan hari, minggu, ataupun bulan, tetapi dalam hitungan tahun. Dalam konteks anak-anak, membudayakan bekerja keras bagi mereka memang terlihat sulit karena kemampuan berpikir anak yang masih berkembang. Namun jika dalam artian mendidik, merangsang perkembangan, mengarahkan, atau mewariskan nilai, dengan cara yang pas untuk anak-anak, tentu hal tersebut sangatlah mungkin. Di sinilah peran orangtua sesungguhnya, menjadi pendidik pertama dan rumah sebagai ruang kelas pertama dalam hidup anak.

Cara Menanamkan Karakter Kerja Keras pada Anak

Anak-anak selalu membutuhkan proses untuk belajar dan mengenal lingkungannya, tugas orangtua hanyalah mendampingi dan mendukung setiap perkembangan anak. Termasuk menanamkan karakter kerja keras dalam diri anak. Berikut beberapa cara membangun karakter kerja keras pada anak yang dapat dilakukan orangtua di rumah.

1. Kerja Keras Memerlukan Proses yang Panjang

Pendidikan tidak diperoleh dengan cara yang instan, semuanya memerlukan proses, termasuk menanamkan sikap kerja keras pada anak. Orangtua perlu memberikan teladan dan stimulasi untuk setiap perkembangan anak dan sudah dipastikan diperlukan kesabaran yang penuh bagi orangtua dalam mendampingi anak selama belajar.

2. Membangun Ekspektasi yang Wajar

Setiap orangtua pasti memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap perkembangan anaknya. Orangtua perlu mengingat bahwa anak adalah pribadi yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri. Maka dari itu, bangun ekspektasi yang wajar dan jangan membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, untuk anak-anak di bawah 7 tahun yang terpenting adalah keteladanan dan nasihat terus menerus. Setelah memasuki usia sekolah baru memulai dengan komitmen yang telah disepakati.

3. Memulai Komitmen

Buatlah kesepakatan-kesepakatan yang harus dilakukan anak beserta konsekuensi yang diberikan jika kesepakatan tidak dikerjakan. Misalnya membereskan kamar setiap hari, jika terlewat maka waktu menonton atau main games dipangkas.

4. Keteladanan dan Stimulasi

Orang tua perlu memfasilitasi berbagai pengalaman belajar untuk anaknya. Orangtua hendaknya juga mempelajari hal baru bersama anak, misalnya membaca sebuah cerita tentang jatuh bangunnya kehidupan seseorang dalam meraih kesuksesan sebagai teladan tentang pentingnya membangun budaya kerja keras pada anak.

5. Kerjakan Sampai Tuntas

Biasakan anak untuk mengerjakan sesuatu sampai tuntas, misalnya membereskan mainan atau dalam aktivitas makan hingga tuntas. Demikian pula saat melakukan aneka kegiatan lainnya. Saat anak belum mampu menyelesaikan suatu aktivitas yang menjadi tugasnya, maka orangtua hendaknya menyelesaikan dengan anak menemani proses penyelesaian tersebut. Dengan proses tersebut, anak akan terbiasa melihat bahwa suatu kegiatan harus diselesaikan sampai tuntas.