15 Mei 2018, 10:01:52 WIB
Panduan Orang Tua untuk Jelaskan Aksi Terorisme kepada Anak

Aksi terorisme bukanlah yang pertama kali terjadi di tanah air. Berita terkait aksi terorisme tersebut pun meramaikan berbagai media sosial yang tak ayal membuat anak-anak mudah terpapar informasi tersebut. Peristiwa tersebut tentu membuat banyak orang merasa cemas dan panik. Orang tua pun sering kali bingung ketika dihadapkan pada pertanyaan anak soal apa itu terorisme. Tentu saja, suatu keharusan bagi orang tua untuk memberi pemahaman mengenai aksi terorisme tersebut dengan penjelasan singkat, tepat, dan sesuai usia anak sebagai salah satu wujud tindakan pencegahan terhadap berbagai hal yang tidak diinginkan.

Lebih lanjut, saat ingin memberikan pemahaman tentang aksi terorisme serta memastikan kondisi anak-anak aman, orang tua harus dalam kondisi tenang dan tidak panik. Oleh karena itu, orang tua harus memperhatikan sikap berbicara saat dengan anak. Orang tua sebaiknya tidak menunjukkan gerak tubuh yang menunjukkan ketakutan atau panik misalnya dengan meremas tangan anak, mengguncang tubuh anak perlahan, menangis, atau lainnya. Sebaliknya, meskipun pasti takut, sebisa mungkin harus bersikap tenang dan santai. Kemudian, yang terpenting adalah memberi rasa aman pada anak. Mengutip laman resmi Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berikut beberapa tips sebagai panduan bagi orang tua untuk bicara pada anak soal aksi terorisme.

1.  Mencari Tahu Berbagai Hal tentang Terorisme yang Telah Diketahui Anak

Setelah orang tua memahami sejauh apa anak mengerti soal teror tersebut, orang tua dapat mengajak anak untuk membahas singkat tentang apa yang terjadi saat ini. Pembahasan tersebut harus meliputi hal-hal yang sudah terkonfirmasi kebenarannya (bukan hoaks). Lalu, ajaklah anak untuk menghindari berbagai hal yang berbau spekulasi.

2.  Mencegah Anak Melihat Gambar Korban dan Adegan Mengerikan

Saat menonton berbagai tayangan televisi atau pemberitaan di media sosial terkait kasus bom, orang tua sebisa mungkin harus mencegah anak untuk melihat berbagai gambar korban dan juga adegan mengerikan lainnya. Hal tersebut berlaku terutama untuk anak di bawah 12 tahun. Dengan demikian, orang tua harus mendampingi anak saat menonton telivisi ataupun saat sedang bermain gawai. 

3.  Mengidentifikasi Rasa Takut Berlebih pada Anak

Meski tidak langsung melihat atau mengalami secara langsung, trauma atau ketakutan mungkin saja dialami anak melalui mendengar cerita atau melihat tayangan korban. Dengan demikian, orang tua harus mampu mengidentifikasi rasa takut anak yang mungkin berlebihan. Orang tua dapat menjelaskan bahwa aksi terorisme dan peristiwa teror bom memang jarang terjadi, namun kewaspadaan tetap dibutuhkan.

4.  Membantu Anak Mengekspresikan Perasaan

Saat memberi pemahaman tentang aksi terorisme, orang tua pun harus membantu anak untuk mengungkapkan perasaan terhadap tragedi yang tengah terjadi. Jika ada rasa marah, orang tua harus mengarahkan pada sasaran yang tepat yaitu pelaku kejahatan, bukan pada golongan tertentu berdasarkan prasangka tak beralasan. Dengan demikian, orang tua dituntut untuk peka terhadap perasaan anak sekaligus peka terhadap kebenaran suatu peristiwa. 

5.  Memberikan Rasa Aman dan Nyaman pada Anak

Meskipun ancaman bom masih meneror, namun orang tua harus mengajak anak untuk tetap beraktivitas seperti biasanya. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan rasa nyaman pada anak serta menunjukkan bahwa kita semua tidak tunduk pada tujuan teroris, yaitu mengganggu kehidupan dan menebar ketakutan. Hal yang terpenting adalah utamakan kebersamaan dan komunikasi yang intens untuk mendukung anak.

6.  Mengajak Anak Mengapresiasi Kinerja Aparat Penegak Hukum dan Petugas Lainnya

Penting untuk diingat bahwa orang tua sebaiknya tidak hanya fokus memberi informasi mengenai penanggulangan terhadap peristiwa teror yang terjadi. Namun, ajak anak juga untuk berdiskusi dan mengapresiasi kinerja polisi, TNI, sampai petugas kesehatan yang bersatu-padu untuk melayani, melindungi, dan membantu masyarakat saat terjadi aksi terorisme. Anak juga dapat diarahkan untuk meneladani perilaku heroik para aparat dan petugas tersebut secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari.