28 Desember 2018, 13:28:25 WIB
Nilai Anak Jelek, Perlu Motivasi atau Sanksi?

Penyerahan Rapor K-13 Semester 1 akan segera dilaksanakan setelah proses Ujian Akhir Semester (UAS) selesai. Jika anak telah belajar dengan baik, nilai yang tertera di rapor pun pasti akan memuaskan. Sebaliknya, jika nilai anak jelek, hal itu biasanya disebabkan karena kurang tekun belajar. Sebelum mengambil sikap yang tepat, sebaiknya orang tua perlu memahami beberapa hal berikut.

1. Anak Butuh Dukungan

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, anak tidak hanya belajar di sekolah. Di rumah, orang tua juga perlu membantu anak untuk mengulang kembali pelajaran yang diterima di sekolah. Sebagian besar anak membutuhkan dukungan orang tua untuk belajar di rumah. Bukan sekadar menemani, tetapi memberikan pencerahan dan solusi jika ada materi yang tidak dipahami anak.

Dengan menyadari hal ini, orang tua dapat mengoreksi diri sekaligus menambah kapasitas. Bukan hanya terkait materi pelajaran, tetapi juga cara mengajar yang baik dan efektif.

2. Motivasi Lebih Efektif

Masih ada orang tua yang tidak menyadari dampak motivasi bagi anak. Umumnya, ketika nilai anak jelek, orang tua langsung memberikan hukuman atau sanksi. Harapannya, anak tidak lagi malas belajar dan berhasil memperbaiki nilainya pada semester selanjutnya.

Namun, apakah tindakan ini efektif? Memberikan motivasi kepada anak ternyata lebih bermanfaat, apalagi jika anak tidak bisa mencapai nilai tinggi karena terhalang kondisi tertentu. Jadi, tugas orang tua adalah memberikan pengertian kepada anak serta semangat untuk terus berusaha.

3. Sanksi yang Tidak Tepat dapat Mematikan Semangat

Pada beberapa kondisi, orang tua mungkin melihat ada alasan logis memberikan hukuman kepada anak. Misalnya, ketika orang tua selalu mengingatkan untuk belajar, tetapi anak cenderung mengabaikan. Jika mengalami hal ini, sebaiknya orang tua kembali memberikan pengertian kepada anak terkait sebab sanksi diberikan.

Dengan pemahaman yang jelas, tujuan sanksi dapat tercapai. Anak pun akan berusaha memperbaiki diri pada waktu selanjutnya. Sebaliknya, jika anak salah memahami sanksi yang diberikan orang tua, ia dapat kehilangan semangat untuk belajar. Kemungkinan lainnya, ia mau belajar hanya untuk sekadar memuaskan orang tua, bukan karena kesadaran sendiri.

4. Sanksi Harus Seimbang dengan Motivasi

Jika Anda merasa bahwa anak harus diberikan sanksi, jangan lupa untuk menyeimbangkannya dengan motivasi. Kedua hal ini perlu dilakukan dalam porsi yang seimbang demi mendorong anak menemukan kualitas terbaiknya. Jangan sampai, anak terus-menerus didesak tanpa didukung melalui motivasi orang tua.

Perlu diingat juga bahwa sanksi yang dimaksud adalah sesuatu yang berguna untuk anak,  bukan untuk tujuan menyakiti atau merendahkan anak. Nah, dengan memberikan sanksi sekaligus motivasi, orang tua akan dapat membantu anak melewati masa-masa yang sulit selama belajar.

Baca juga: Nilai Anak Jelek, Orang Tua Harus Bagaimana?