15 Januari 2019, 08:37:30 WIB
Tips Menghindarkan Anak dari Kejahatan Seksual

Anak berisiko menjadi korban kejahatan seksual. Menurut data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang 2017, ada sekitar 116 kasus kekerasan seksual yang dialami oleh anak. Meskipun jumlah ini berkurang dari dua tahun sebelumnya, masih banyak kasus kekerasan seksual pada anak yang tetap menimbulkan kegelisahan.

Untuk itu, semua pihak perlu berperan aktif untuk menghindari kejahatan seksual pada anak. Sebaiknya, anak diajarkan untuk melindungi diri sendiri sehingga risiko untuk menjadi korban lebih kecil. Berikut adalah beberapa tips menghindarkan anak dari kejahatan seksual tersebut.

1. Memperkenalkan Bagian Tubuh dengan Nama yang Tepat

Salah satu tahap awal yang perlu dilakukan oleh orang tua untuk menghindari terjadinya kejahatan seksual adalah memperkenalkan nama bagian tubuh dengan tepat dan benar. Sebagian orang tua mencoba memperhalus penyebutan bagian tubuh tertentu, seperti kemaluan, dengan istilah lain. Ini adalah cara yang salah karena dapat menimbulkan kebingungan pada anak.

Dengan mengajarkan nama-nama yang benar untuk setiap bagian tubuhnya, anak akan dapat menceritakan apa yang terjadi secara lebih akurat. Hal ini penting terutama jika ada orang lain yang melakukan hal-hal tidak senonoh kepada mereka. Kemungkinan salah tafsir pun lebih kecil.

2. Mengajarkan Batasan pada Anak

Pihak pertama yang bertugas untuk melindungi anak adalah keluarga. Masalahnya, sebagian besar pelaku kekerasan seksual adalah orang terdekat, mulai dari ayah tiri atau kandung hingga tetangga. Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa anak perlu menjaga diri dengan mengetahui batasan dalam pergaulan.

Memeluk oleh orang terdekat, misalnya, dapat dilakukan dengan alasan yang tepat dan cara yang wajar. Demikian pula ketika seseorang menyentuh bagian tubuh anak. Ia harus tahu kapan sentuhan tersebut merupakan hal yang wajar atau tidak.

3. Membuka Ruang Komunikasi dengan Anak

Tidak sedikit orang tua yang bersikap tidak peduli dengan keseharian anak. Jika anak mengalami masalah, ada pula orang tua yang justru menyalahkan. Respons seperti ini akan menutup ruang komunikasi yang ideal dengan anak. Akibatnya, anak enggan untuk berterus terang jika terjadi hal yang tidak beres.

Mampu bersikap terbuka terhadap peristiwa yang menimpa dirinya adalah kriteria relasi yang baik. Hal ini menunjukkan kepercayaan anak kepada orang tua, bukan hanya untuk mendengarkan, tetapi menyelesaikan masalah yang dialaminya.

4. Membekali Anak dengan Keahlian Membela Diri

Kekerasan seksual juga bisa saja disertai dengan paksaan atau ancaman. Orang tua juga perlu membekali anak kehalian untuk membela diri. Dengan demikian, anak pun menjadi lebih waspada dan mampu melawan jika berhadapan dengan situasi seperti ini.

Ajarkan anak untuk menolak jika hal tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh orang tua. Ini merupakan salah satu cara melindungi anak dari kejahatan seksual.

Tindakan menghindari kejahatan seksual pada anak sebaiknya dimulai sejak dini. Sehingga, anak akan terhindar dari risiko kejahatan seksual yang dapat menimpanya di mana saja.