04 Mei 2017, 11:49:29 WIB
Anak Terlahir Cerdas Bukan Hanya Sebuah Teori

Kita tentu sering mendengar seorang anak disebut bodoh oleh guru, teman, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Anggapan bodoh ini biasanya muncul ketika anak tidak bisa melakukan suatu hal dengan benar atau mendapatkan nilai pelajaran yang kurang baik. Anggapan seperti ini seharusnya dihilangkan karena membuat anak kurang berkembang. Sebenarnya, tidak ada anak yang terlahir bodoh. Anak yang berlabel bodoh merupakan hasil dari kurangnya stimulasi dan pengembangan kecerdasan oleh lingkungan di tahap perkembangannya. Tak jarang orang-orang dewasa tidak menyadari adanya potensi kecerdasan yang spesifik pada anak. Padahal, semua anak memiliki kecerdasan masing-masing.

Perbedaan potensi kecerdasan anak dijelaskan dalam teori multiple intelligent yang diperkenalkan oleh Howard Gardner. Hasil penelitian Howard Gardner menunjukan bahwa ada banyak jenis kecerdasan yang tidak bisa diukur menggunakan tes IQ standar. Jenis-jenis kecerdasan tersebut, yaitu kecerdasan bahasa, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis dan kecerdasan spiritual (Armstrong, 2002). Setiap anak diyakini memiliki semua kecerdasan tersebut, tetapi dalam porsi yang berbeda-beda. Kecerdasan ini tidak akan hanya menjadi sebuah teori apabila orang tua bisa menyadari dan memaksimalkan potensinya.

Orang tua merupakan agen pendidik pertama bagi anak dalam setiap tahap perkembangannya. Tugas orang tua salah satunya adalah mencari potensi kecerdasan yang menonjol pada anak dan mengoptimalkannya agar berguna dalam kehidupan. Orang tua juga perlu menyesuaikan cara mendidik anak berdasarkan kecerdasannya masing-masing. Perbedaan kecerdasan pada anak membuat cara mendidiknya pun berbeda satu dengan yang lain. Kita perlu melakukan beberapa upaya agar kecerdasan anak berkembang di atas rata-rata. Semua kebutuhan psikologis dan fisik untuk tumbuh kembang anak kita usahakan terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan diharapkan dapat menunjang kemampuan anak dalam mengembangkan kecerdasannya. Selain itu, komitmen orang tua untuk mendidik anak secara langsung sangatlah penting.

Lingkungan belajar anak sebaiknya juga tidak luput dari perhatian orang tua. Kita ciptakan lingkungan belajar anak yang menyenangkan sehingga membangkitkan kemauan anak untuk giat belajar. Kita coba gunakan prinsip-prinsip yang membantu anak agar bisa belajar dini dengan gembira atau lebih tepatnya “bermain sambil belajar”. Hal ini tidak hanya memberi keuntungan pada perkembangan intelektual anak, tetapi juga bisa mempererat hubungan orang tua dengan anak. Suasana rumah yang riang dan gembira juga bisa merangsang anak untuk mengembangkan kecerdasan mereka. Rumah tangga yang harmonis dan demokratis dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak menjadi lebih baik (Prasetyono, 2008). Gaya mendidik anak secara demokratis tidak berarti memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anak. Kita bisa mengarahkan kemauan belajar anak dengan adanya komunikasi dua arah ini. Dengan demikian, anak akan belajar lebih giat dan senang, bukan atas dasar paksaaan sehingga perkembangan kecerdasanya akan semakin optimal.